Pencak silat vs Konflik Horisontal

Posted on Updated on


Entah apa yang sedang terjadi dengan masyarakat kita dewasa ini, konflik horisontal merebak di mana-mana.

Penyebabnya pun begitu beragam, mulai masalah SARA, ekonomi, sosial dan politik, macem-macem.

Konflik ini tidak main-main, sudah sampai merenggut nyawa; lihatlah penyerbuan warga Ahmadiyah di Cikeusik, sangat sadis. Konflik antar umat beragama juga merebak di mana-mana, seperti yang terjadi di Bekasi.

Teranyar adalah kerusuhan di Batam yang menewaskan satu orang warga.

Tidak kalah memprihatinkan adalah kerusuhan yang kerap terjadi di Jawa Timur antara Perguruan Silat atau Perguruan Silat tertentu dengan masyarakat sekitar yang seolah sudah menjadi tradisi tahunan. Peritiwa terakhir cukup mengejutkan saya adalah Suatu Perguruan Silat yang sudah terkenal sering tawuran di Jawa Timur kini merambah ke Palembang. Peristiwa ini sempat membuat beberapa kawan saya yang pesilat menjadi emosi dan terlontar kata-kata “saya tunggu di Jakarta” (silakan terjemahkan sendiri).

Pada hemat saya, para pesilat harus dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa pencak silat itu bisa DAMAI, RAMAH, dan SANTUN. Kekerasan yang kita alami pada saat berlatih semesti nya tidak terbawa ke pergaulan dalam masyarakat.

Para pesilat dengan kemampuannya “berkelahi” akan sangat berguna dalam mencegah konflik horisontal, bukannya menjadi salah satu aktor kerusuhan. Andai dalam setiap konflik di masyarakat para pesilat turun ke jalan menjadi pendamai, pencegah, dan pereda kerusuhan, akan sangat begus nilai nya di mata masyarakat.

Mudah-mudahan

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s