Menjaga keutuhan tradisi pencak silat tradisional

Posted on Updated on


“Lain lubuk lain belalang, lain daerah lain tradisi dan adat budaya.”

Satu hal yang menjadi benang merah kesamaan antara pencak silat tradisional di Indonesia adalah : bahwa pencak silat lahir dari adat dan budaya masyarakat. Oleh karena itu banyak sekali makna tersirat dalam pencak silat, salah satu nya adalah ritual/tradisi yang menyertai dalam beberapa tahapan proses belajar di dalam nya.

Setiap aliran mempunyai tata cara masing-masing, ada talek, khataman, keceran, ngonde, ngurut, dan sebagai nya. Tentu saja masing-masing mempunyai perbedaan pula dalam pelaksanaannya, ritual nya. Kesamaan makna yang menjadi pengikat adalah makna filosofis yang terkandung di dalam nya.

Kong Sakam (tengah)

Salah satu perguruan yang masih memegang teguh tradisi ini adalah PERGURUAN SILAT CINGKRIK RAWA BELONG KOTA DEPOK. Perguruan pencak silat Betawi ini walau pun menggunakan nama RAWA BELONG, tetapi terletak di Kota Depok, didirikan dan dikembangkan oleh Kong Sakam, tokoh pencak silat asli Depok yang sejaman dengan Kong Goning dan Komg Sinan. Dinamakan Perguruan Silat Cingkrik rawa Belong Depok, karena sesuai amanat dari Kong Sakam untuk mengingat sejarah bahwa Kong Sakam belajar dan mendapatkan ilmu silat Cingkrik ini dari Rawa Belong. Kong Sakam adalah salah satu tokoh Cingkrik angkatan ketiga yang merupakan saudara seperguruan dari Kong Sinan.

Salah satu Tradisi tahunan di perguruan ini adalah “mulang sarat”, yaitu semacam pelantikan dan pengesahan anggota baru perguruan yang  dilaksanakan pada Bulan Maulid (tahun ini bertepatan dengan tanggal 17 Februari 2011.)

Tradisi ini sangat kental nuansa islami dan persaudaraan. Dipimpin oleh seortang ustadz, didahului dengan pembacaan doa, diisi dengan nasehat dan penjelasan akan makna filosofis tradisi ini.

Berikut sedikit catatan pelaksanaan tradisi ini yang kebetulan tadi malam sempat saya hadiri :

Mulang sarat adalah tradisi penerimaan anggota perguruan yang ditandai dengan : 1. penyambutan, 2. Ngebeset ayam bakar, 3. Pengurutan dan tutu mata

  1. Penyambutan dilakukan di awal acara oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan doa dan nasehat oleh Bapak Ustadz, nama-nama para anggota baru disebutkan satu persatu.
  2. Ngebeset ayam bakar. Berasal dari kata beset (huruf “e” pertama dilafalkan seperti pengucapan kata “keluh”, huruf “e” kedua dilafalkan seperti mengucapkan kata “raket”). Beset sendiri dalam aliran silat ini berupa satu gerakan tangan  yang selalu ada dalam jurus-jurus Cingkrik.  Makna filosofis dari tradisi ini adalah : Ayam jago muda melambangkan generasi muda yang gagah, kuat, dan hebat. Ayam jago yang mati bermakna : segagagh, sekuat dan sehebat apapun setiap orang pasti akan mati, oleh karena itu kita tidak boleh sombong. Tata cara ngebeset ini sebagai berikut : Dengan komando Pak Ustadz (didahului dengan doa), para calon anggota baru serentak menarik kedua paha ayam ke arah berlawanan dan harus putus seketika. Makna nya adalah, diharapkan mereka kelak akan menjadi pesilat yang tangkas, cepat, kuat, dan tepat. Setalah itu dilanjutkan dengan mengoyak seluruh bagian dari ayam bakar tadi, yang bermakna dalam menghadapi lawan harus sampai tuntas. Makna lebih dalam adalah supaya kita bisa menyelesaikan setiap masalah dengan tuntas.
  3. Pengurutan dilakukan setelah acara ngebeset selesai. Dilakukan oleh guru dan murid senior yang dipilih. Pengurutan ini tidak sebatas untuk para anggota baru saja, tetapi berlaku untuk seluruh hadirin. Makna nya : ini merupakan lambang ikatan persaudaraan dan sikap kekeluargaan terhadap semua tamu yang hadir. Sarana yang digunakan adalah minyak kelapa murni yang dibuat dengan syarat-syarat : berbahan 7 buah kelapa, di mana satu buah di antara nya adalah buah kelapa yang NUNGGAL, yaitu hanya ada satu buah dalam satu tangkai, dan harus yang menghadapi kiblat. Makna filosofis : 1. Sangat sulit mencari nya yang berarti dalam hidup ini kita memerlukan perjuangan untuk mendapatkan sesuatu, 2. Nunggal atau Tunggal melambangka Allah Tuhan Yang Maha Esa, 3. Menghadapi kiblat melambangkan SHOLAT. Ketujuh buah kelapa ini kemudian diolah menjadi minyak dengan syarat, yang mengolah adalah seorang nenek yang tidak pernah lepas (dan tidak boleh putus) dari berzikir dan membaca sholawat dalam masa proses pengolahan. Makna nya adalah kita harus selalu mengingat yang maha kuasa. Minyak kelapa murni juga mengandung khasiat untuk kesehatan dan kehalusan kulit, jadi sangat bermanfaat bagi tubuh.
  4. Tutu mata, atau dalam bahasa lain disebut juga kecer adalah meneteskan mata para murid (juga berlaku untuk semua hadirin) dengan cairan yang diramu khusus oleh Guru Besar silat ini. Tujuannya untuk membersihkan kotoran pada mata dan menghilangkan penyakit. Makna filosofis lainnya adalah adanya kewajiban untuk selalu membersihkan diri lahir dan batin

Itukah beberapa catatan yang dapat saya rangkum dari acara tadi malam.

Satu hal yang menurut saya cukup penting untuk dicatat adalah bahwa tradisi semacam ini mempunyai makna yang luas dan dalam untuk perguruan itu sendiri, yaitu adanya ikatan batin antara murid dan perguruan, murid dengan guru, dan sesama murid. Pencak silat tradisional yang lahir dari adat istiadat dan budaya masyarakat tentu tidak bisa lepas dari tradisi. Tradisi yang dilakukan dengan penghayatan dan pengejawantahan akan makna yang terkandung didalam nya akan mampu menghidupi “ruh” perguruan dan silat itu sendiri. Pencak silat yang dimaknai semata-semata hanya sebagai gerak badan untuk membela diri akan kehilangan ruh nya. Kalau itu sampai terjadi, lantas apa bedanya Pencak Silat Tradisional dengan cara berkelahi preman jalanan?

Mari kita jaga tradisi dalam kehidupan pencak silat tradisional kita

Wassalam


One thought on “Menjaga keutuhan tradisi pencak silat tradisional

    […] baca artkel sejenis dengan judul Menjaga keutuhan tradisi pencak silat tradisional […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s