Melihat langit bisa lewat kubangan air, mengukurnya? Jangan….

Posted on


Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku. Berbagai tangggapan bermunculan. Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong dan Kumangonya. Beliau (yang mengatakan hal tersebut) dengan serta merta menerangkan apa itu Cikalong, apa itu Cimande dan juga Kumango. Sayang aku tak sempat berdiskusi dengannya. Sahabatku dan saudara perguruanku yang turut larut dalam pembicaraan itupun hanya mengiyakan dan mengangguk-angguk. Mungkin karena menjaga sikap santunnya yang selama ini jarang menempel di kepalaku. Namun dalam hatiku cukup membuatku terhenyak, bagaimana mungkin sesuatu yang kami sedang angkat dan cukup berhati-hati dalam mengkaji yang memakan cukup banyak waktu langsung ke nara sumber yang terkait dibilang, ” Itu bukan asli…”

Tak hanya cukup bingung namun aku juga prihatin mendengarkan perkataannya, dalam beberapa penerangannya ternyata penggambaran tentang dari mana Cimande, apa itu Cikalong dan Kumango masih pada tataran sangat dasar yang diketahui banyak orang dan sama sekali tidak menggambarkan utuh bagaimana ciri suatu penggambaran bela diri pencak silat. Ketika berbicara Cimande dari kampung Mande, ternyata beliau tidak tahu bahwa sejak lama beberapa daerah di sana telah ditenggelamkan menjadi waduk. Saat berbicara mengenai Cikalong ternyata beliaupun tidak mengenal siapa penerus aliran ini dari garis penerus Gan Uweh ”Pasar Baru” yang ditampilkan begitu juga tentang pencak silat yang memiliki sikap pasang panjang adalah Cikalong dan Cimande rapat, inipun adalah gambaran umum yang dengan mudah didapat dari menguping atau katanya dengan sumber yang tidak jelas. Khusus Cikalong (maenpo Cikalong), penggambaran sikap yang panjang dan posisi kuda-kuda ringan adalah pola umum bukan merupakan indentitas khusus. Sebagaimana kita ketahui, aliran Cikalong adalah salah satu aliran pencak silat yang memberikan warna pada perkembangan pencak silat Jawa Barat juga tanah air. Apakah ketika kita ini bingung dengan warna asli Cikalong itu sendiri karena kita terbiasa dengan ”warna” yang berkembang??? Bagaimana mungkin menilai sebuah bentuk bela diri asli atau bukan tanpa mempelajari dan mendalami? Dengan latar belakang sama-sama pesilat, menurut saya hal tersebut melampaui kewenangan penilaiannya (dalam istilah anak gaul, belajar juga kagak kok berani monten?). tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau sebagai sesepuh pencak silat, kiranya juga beliau mau kita ajak diskusi dan membaca bahwa banyak lho kekayaan pencak silat kita itu.

Kumango yang kami jadikan bahan dalam garapan video proposal ESI adalah salah satu penerus yang juga diketahui oleh banyak orang dari Nagari Kumango sendiri dan itupun merupakan penerus aliran Syech Kumango ini (Almarhum Guru Gadangnyapun kami kenal dekat). Begitu juga dengan Pamacan, Gerak Gulung Budi Daya yang menampilkan beberapa Raka Wiranya, Cikalong yang menampilkan Guru Besar, Guru dan para murid yang merupakan penerus aliran ini yang telah diketahui oleh pemda Kabupaten Cianjur yang masuk ke dalam daftar pelestari seni budaya Cianjur yang insya Allah akan dimasukan dalam hak paten sebagai HAKI anak bangsa sebagai salah satu kekayaaan budaya bangsa, Si Bunder yang menampilkan generasi mudanya, Golok Suliwa yang langsung menampilkan sang Gurunya, Beksi Tradisional Haji Hasbullah yang merupakan salah satu perguruan yang memegang tradisi dan pakem yang berlaku. Mungkin menjadi hal yang biasa ketika pembicaraan ini adalah ajang tanya jawab.

Sebenarnya hal tersebut tak perlu aku pusingkan jika yang dibahas adalah bukan ranah dan apa yang sedang aku pelajari dan amanahkan menjaganya. Namun ketika berbicara maenpo Cikalong dan para guruku dianggap bukan asli, aku teringat kejadian yang berulang di Bandung tahun 1984 di mana ketika penampilan para murid waktu itu dianggap bukan asli karena tidak gagah dan di katakan sebagai silat perempuan (padahal saat itu maestro Cikalong, Raden Haji O. Soleh / Gan Uweh masih ada) Namun penilaian ini malah tidak membuat Guru Besar generasi IV marah, malah dikatakannya, ” keun bae disebut silat awewe oge…../ biar saja disebut silat perempuan juga” sekaligus menepis keraguan para murid terdahulu, beliau bilang semakin dianggap bukan Cikalong itu menandakan semakin tidak tahunya orang tersebut, maka biarkanlah….
Bukan bermaksud menempatkan menerapkan perkataan Guru Besar Raden Haji O. Soleh pada hal ini. Namun alangkah elok dan baik jika beliau yang mengatakan bahwa apa yang telah kami kerjakan ini bukan asli maka sebagai orang yang jauh lebih muda dan sebagai murid dari aliran Cikalong, adalah pantas jika aku juga meminta beliau ini untuk menerangkan Cikalong ”asli” versinya. Begitu senangnya aku berdiskusi aliran Cikalong yang dapat membukakan mata dan hatiku, tidak menepis kemungkinan akupun meminta data dan bagaimana mengenal Cikalong ”asli” nantinya dari beliau ini. Sekaligus meminta data dengan memulai diskusi yang santun dan elegan, aku mencoba menyampaikan hal ini.

Mungkin antara kenal dengan sok kenal itu dekat, tapi antara tahu dengan sok tahu, ahli dengan sok ahli itu jauh dan sangat jauh…..

Air kubangan memang dapat dijadikan alat melihat langit, namun jangan kita mengukur ketinggian langit dari air di kubangan.

ref : http://www.facebook.com/notes/iwan-setiawan/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/308047761911

(iwan setiawan)

9 thoughts on “Melihat langit bisa lewat kubangan air, mengukurnya? Jangan….

    didit said:
    February 16, 2010 at 7:40 am

    saya suka baca note ini. silat asli atau nggak asli itu cuma rekaan orang yang gak mau kalah. semua SIlat menurut saya adalah warisan budaya yang bernilai tinggi. aliran-aliran muncul karena setiap jenis maenpo punya jagoan alias jawara-jawara yang masing-masing menginterpretasikan maenpo itu sesuai dengan kepribadiannya. makanya muncul aliran-aliran berbeda di satu jenis maenpo.
    mana yang asli? ya semua asli, dan semua juga ada campurannya, sesuai pengalaman adu pukulan masing-masing gurunya… saya setuju kalau gak usah mengadu asli atau tidak. Hargai saja orang lain….

    ada tambahan sedikit. Kalau dibilang silat perempuan bukan berarti penghinaan kok. bukankah nenek moyangnya silat di Minang juga perempuan?…bukannya berarti lebih dahsyat, kaarena dengan tenaga lemes (sedikit) bisa mengalahkan orang yang lebih kuat? tapi itu pendapat saya…

    Sunan said:
    February 16, 2010 at 1:03 pm

    Diajak praktek teknik aja bang.. hehehe

    bang ochid said:
    February 17, 2010 at 7:38 am

    hehe…teknik sipil apa elektro?
    seperti nya akan ada diskusi lanjutan ttg hal ini, tingkat sensitifitas nya cukup tinggi…
    tentu nya diskusi yg argumentatif dengan data dan fakta.
    persoalannya buka “asli atau tidak asli” seperti pernyataan mas didit di bawah, tp di tengah semangat nya kita melakukan gerakan peduli silat
    dan pendokumentasian dalam bentuk video melalui riset dan wawancara ke sumber langsung, tiba2 ada tokoh persilatan yg dengan ringan menyatakan : “itu tidak asli”…

    bang ochid said:
    February 17, 2010 at 7:45 am

    teknik sipil apa elektro, om? hehehhe…
    sepertinya akan ada diskusi lanjutan ttg hal ini, tentu nya diskusi yang argumentatif dengan data dan fakta. lah, bagaimana seorang tokoh persilatan bisa dengan mudah nya men cap sesuatu itu asli atau tidak asli, sedangkan bahwa kampung mande di cianjur telah hilang karena pembangunan waduk saja beliau tidak tahu??
    yang menjadi soal bukan “asli atau tidak asli” seperti kata mas didit di bawah, tetapi di tengah gencar nya kita menjalankan program peduli silat dengan pendokumentasian dan kampanye cinta silat, ini malah sang tokoh dengan ringannya menyakan “silat-silat itu tidak asli”

    bang ochid said:
    February 17, 2010 at 7:57 am

    saya suka banget note ini malah sampe saya kutip di mana-maa, dan sekarang menjadi topik diskusi yg hangat di mana-mana, termasuk di Cianjur.
    betul..bukan soal asli atau tidak asli, tetapi keluar nya pernyataan ini sangat tidak cerdas dan tidak peka terhadap sensisitifitas para tokoh dan aliran silat yg dimuat dalam ESI. Sedikit soal cikalong, Sejarah mencatat, bahwa Rd. H. Ibrahim Jayaperbata sebelum “menciptakan maenpo cikalong” telah berguru ke banyak pendekar dan aliran silat (17, bahkan ada yg menyebut 40 guru). Di antara nya yang terkenal adalah Rd Ateng Alimudin (kakak ipar, aliran cimande), Bang Ma’ruf, Bang Madi, dan Bang Kari. Dari sejarah kelahirannya saja sudah kelihatan bahwa maenpo cikalong adalah hasil perenungan Mama H Ibrahim atas semua ilmu silat yg dipelajari nya, oleh karena itu tentu saja akan banyak sekali variasi dan pengembangan dari maenpo cikalong. Sejarah juga mencatat bahwa Mama H Ibrahim mempunyai banyak murid dan mengajarkan silat tergantung bakat dan karakter sang murid. Jadi sangat wajar apa bila dikemudian hari cikalong menjadi aliran silat yang kaya akan ragam dan variasi gerak. Maenpo Cikalong Pancerbumi yang sekarang dikembangkan oleh H Ceng Suryana sebagai pewaris keilmuan Gan Uweh (generasi ke IV) mempunyai silsilah keilmuan yang jelas dan runtut sampai ke Rd. H. Ibrahim Jayaperbata

    MHT.SANDI said:
    October 21, 2010 at 12:08 pm

    INGIN MINTA TOLONG , AJARI KAMI TEKNIK SILAT ELEKTRO
    PSGJ : PENCAK SILAT GUNUNG JATI
    KALIMANTAN SELATAN , DI PELAIHARI
    DEKAT GOR

    Bang Ochid said:
    October 21, 2010 at 12:57 pm

    terima kasih atas atensi nya.
    mohon maaf, permintaan pa sandi sangat sulit buat saya karena :
    1. saya bukan pesilat dari PSGJ
    2. saya domisili di jakarta
    3. tidak mungkin saya mengajari silat yang bukan keahlian saya, bahkan saya belum mengenal TEKNIK SILAT ELEKTRO yg dimaksud

    wassalam

    gusty haryanor said:
    May 8, 2011 at 7:18 pm

    asz
    saya pelatih psgj daerah pelaihari,
    kami belum terlalu faham dan mendalami tentang teknik silat elektro ,apabila anda bisa, tolong kirimkan informasi tersebut beserta gambar teknik2 x ke e mail saya ..thankz

    waroeng silat responded:
    July 15, 2011 at 9:55 pm

    wah saya juga ga ngerti tuh teknik silat elektro spt apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s