Capita Selecta Pencak Silat

Posted on


Latar Belakang sejarah

Silat atau pencak silat adalah kata yang popular saat ini, yang merujuk pada aktivitas gerak dalam perkelahian, entah itu pembelaan diri, pertandingan, atau semata gerak badan untuk olah raga.

Frasa PENCAK SILAT adalah istilah baku yang digunakan untuk menyebut sebuah seni bela diri khas Indonesia. Seni bela diri sendiri mengandung dua makna : seni dan pembelaan diri. Seni merujuk pada keindahan tata gerak, pola langkah, serang-bela, bahkan seni lebih khusus diartikan sebagai seni pertunjukan ibing pencak silat dimana keindahan gerak dan langkah dipadu dengan iringan musik gendang pencak. Seni bisa  juga diartikan sebagai teknik; teknik menyerang, teknik menghindar, menangkis, memukul, dan sebagainya. Di sinilah letak perbedaan seorang ahli pencak silat dengan orang awang pada saat berkelahi.

Sedangkan bela diri adalah unsur utama dalam silat, intisari dari keahlian seseorang dalam bersilat adalah dalam pembelaan diri ini. Membela diri dalam silat tentu saja menggunakan teknik-teknik, kaidah dan filososfi dalam silat yang dimiliki seseorang

Sejak kapan silat ada di Indonesia? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini, belum ada orang yang bisa menjawab dengan pasti. Sebagai sebuah aktivitas pembelaan diri, cikal bakal pencak silat dapat dikatakan  setua umur manusia. Bukan kan para manusia purba telah terbiasa melawan keras nya alam, binatang buas dan kelompok manusia lainya dalam mempertahankan kelangsungan hidup nya. Apa pun nama nya setiap bentuk gerakan tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya, dalam bentuk seprimitif apa pun adalah suatu seni bela diri (walau pun untuk menyerang terlebih dahulu).

Merujuk pada hipotesa di atas, adalah logis kalau dikatakan silat/pencak silat (penamaan sekarang) sudah berumur sangat tua dan lahir bersamaan dengan terbentuk nya susunan masyarakat tertua di Indonesia (merujuk pada suku-suku yang tinggal di seluruh kepulauan Nusantara)

Ridwan Saidi seorang budayawan Betawi menyebutkan hipotesa berdasarkan hasil penelitiannya bahwa : Pada tahun 130 telah berdiri kerajaan pertama di Jawa yang namanya Salakanagara. Salakanagara nagara berasal dari bahasa Kawi salaka yang artinya perak.

Secara etimologis kemudian Salakanagara itu dikaitkan Ridwan dengan laporan ahli geografi Yunani bernama Claudius Ptolomeus pada tahun 160 dalam buku Geografia yang menyebut bandar di daerah Iabadiou (Jawa) bernama Argyre yang artinya perak. Hal ini dikaitkan pula dengan laporan dari Cina zaman Dinasti Han yang pada tahun 132yang  mengabarkan tentang kedatangan utusan Raja Ye Tiau bernama Tiao Pien.

Ye Tiau ditafsirkan sebagai Jawa dan Tiau Pien sebagai Dewawarman. Termasuk dalam hal ini yang disebut Slametmulyana sebagai Kerajaan Holotan yang merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara dalam bukunya Dari Holotan sampai Jayakarta adalah Salakanagara.

Sebuah kerajaan sesederhana apa pun bentuk nya, pasti mempunyai alat-alat keamanan untuk melindungi kerajaannya, di sini pasti ada keahlian bela diri yang dimiliki oleh para prajurit dan panglima nya, bahkan dikisahkan Aki Tirem, sang pendahulu kerajaan Salakanagara adalah seorang ahli bela diri.

Dalam naskah itu (naskah wangsakerta-pen) saya berupaya menganalisa secara logika, tentang perlawanan Aki Tirem. Sebagai penghulu Salakanagara melawan kekuatan Perompak yang jumlahnya dua kali lipat
melebihi pasukan Salakanagara. Logikanya jikalau tidak mempunyai kekuatan bela diri tidak akan mungkin pasukan
perompak yang jauh lebih besar jumlahnya dapat ditaklukan. Bukti tentang ditaklukan
dengan kekuatan fisik (bukan dengan diplomasi) dapat dilihat dengan jumlah korban, antara
lain:
(Terjemahan…)
Korban di pihak Perompak berjumlah 37 orang, 22 orang tawanan yang selanjutnya dihukum
gantung.
Secara tertulis tidak disebutkan “apa” nama bela diri dari pasukan Salakanagara
pimpinan Aki Tirem, tapi yang pastinya secara tertulis sudah ada dan menunjukkan
eksistensi bela diri bangsa Melayu di awal abad Masehi.(jali jengki, dalam http://sahabatsilat.com)

Pada perkembangan selanjut nya seiring dengan kemajuan peradaban bangsa-bangsa yang hidup di bumi Nusantara, seni bela diri ini pun mengalami kemajuan pesat, apa lagi setelah berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa China dan India dan terjadi akulturasi budaya termasuk seni bela diri. Diperkirakan semenjak abad ketujuh silat telah menyebar di kepulauan Nusantara, dengan penyebaran melalui tradisi lisan dari mulut ke mulut, dari guru ke murid.

Walaupun asal muasal silat masih sulit dipastikan, tapi telah disepakati bahwa silat adalah budaya yang lahir dari nenek moyang dan cikal-bakal bangsa Indonesia. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat. Gajah Mada adalah seorang Maha Patih yang sangat melegenda kesaktiannya. Di tanah Pasundan kita mengenal ketangguhan pasukan kerajaan Pajajaran yang gugur bersama sang Raja, Putri Dyah Pitaloka dan para panglima dalam perang Bubat melawan kerajaan Majapahit

Pengertian

Pencak Silat, ada pendapat yang menafsirkan dengan memisahkan arti dari kedua kata namun ada pula yang menganggap kedua kata tersebut sebagai bentuk dari penyatuan kata. Pendapat pertama yang memisahkan artian kata berpendapat bahwa Pencak adalah bentuk permainan (keahlian) untuk mempertahankan diri dengan menangkis, mengelak dan sebagainya. Sementara silat adalah kepandaian berkelahi, seni bela diri yang berasal dari Indonesia dengan ketangkasan membela diri dan menyerang untuk pertandingan atau perkelahian (KBBI, Pusat Bahasa 2008) Namun kesemuanya itu memiliki kesamaan subtansi di dalam hal pengertian. Tokohtokoh pendiri IPSI menyepakati pengertian pencak silat dengan tidak lagi membedakan pengertian antara pencak dan silat karena memiliki pengertian yang sama. Kata pencak silat adalah istilah resmi yang digunakan Indonesia untuk bela diri rumpun Melayu ini, sementara negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam lebih memilih kata silat.(iwan setiawan, anggota FP2STI dan Sahabatsilat)

Unsur-unsur dalam Pencak Silat

  1. Unsur fisik yang terdiri dari gerak berupa pola langkah, sikap badan, pola langkah, jurus, dan teknik aplikasi nya;
  2. Unsur batin yang merupakan filosofi, perilaku, sikap, kaedah, dan spiritual

Salah satu ciri khas yang membedakan pencak silat dengan jenis bela diri lainnya adalah hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara unsur lahir dan batin. Di mana pencak silat tidak semata-mata alat untuk membela diri dalam arti fisik, tetapi ada unsur “kebatinan” di dalam nya. Kebatinan bukan dalam pengertian mistik, tetapi bagaimana seorang pesilat bisa menyelaraskan antara keahlian bersilat nya dengan kemampuan menjaga tata perilaku dalam hubungan social dan hubungan dengan Tuhannya. Sebagaimana ujar-ujar yang sangat terkenal “lahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan” dan Silat untuk Silaturahim

Satu hal yang sering terlupa dari perhatian kita, masyarakat umum dan pemerintah, bahwa pencak silat adalah merupakan salah satu karya budaya bangsa, dimana dalam pencak silat dapat ditemukan unsur-unsur yang membentuk suatu kebudayaan, yaitu hasil dari olah cipta, rasa dan karsa. Pencak silat adalah juga bagian dari kebudayan kita sebagaimana hal nya dengan seni tari, seni pahat, ukir, lukisan, keris, batik dan lain-lain nya. Sebagai suatu hasil budaya bangsa maka sudah sepantas nya lah pencak silat mendapatkan tempat kedudukan yang sejajar dengan hasil budaya lainnya tersebut. Pemerintah tentu nya diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap hal ini.

Pencak silat tradisional dan modern

Apakah ada pengelompokan dalam hal ini? Secara resmi tidak ada. Kedua istilah tersebut sangat debatable, ada pro dan ada yang kontra tentang hal ini. Selama ini kita mengenal pencak silat hanya sebagai alat bela diri, seni, sport, dan prestasi (dalam wadah IPSI). Istilah silat tradisional menjadi popular setelah FP2STI (Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia) mencanangkan gerakan pelestarian silat tradisional pada tanggal 10 Juni 2006, sebagai bentuk keprihatinan atas kurang nya perhatian pemerintah terhadap silat yang mengakar secara tradisional di masyarakat.

Secara umum silat tradisional dapat digambarkan sebagai silat yang digunakan murni untuk berkelahi, tidak dapat dipertandingkan, memiliki jurus-jurus yang ampuh dan mematikan, berkembang di kalangan masyrakat tradisional, di kampung, di desa, tidak memiliki perguruan yang well organized, system pengajaran yang tidak modern/masih klasik atau tidak terstruktur, dan sejenis nya. Di bawah ini adalah beberapa pendapat tentang apa itu silat tradisional (diambil dari disksui di http://sahabatsilat.com) :

Istilah (pencak) silat tradisional adalah penamaan untuk bentuk perguruan yang berdasarkan pola / metode pengajaran, hirarki kepemimpinan, persyaratan murid juga manajemen yang tidak diatur secara tertulis.
Ciri-ciri tersebut antara lain:
–   pengajaran atau metode berlatih tidak mengenal penguraian jurus, dan lebih bersifat monologis dan tuntun, biasanya tidak massal
–   kepemimpinan tertinggi adalah pada guru, guru besar dan pewaris perguruan atau aliran dan tidak mengenal pengorganisasian formal.
–   persyaratan menjadi murid masih memegang teguh pada tatanan tradisi simbolis dan lebih memilih pada pola perekrutan kekerabatan atau pada keluarga.
–   tidak mengenal pelebelan tingkatan dengan penandaan sabuk dan tidak menggunakan atribut. Tingkatan semuanya berdasarkan pada putusan guru, guru besar, atau pewaris perguruan / aliran
–   keuangan baik pemasukan dan pengeluaran untuk kegiatan adalah karena kesukarelaan bukan berdasar pada patokan / iuran
–   tidak menggunakan pengregistrasian dan pendaftaran
–   menetapkan persyaratan yang berdasarkan corak dan pola istiadat setempat
–   relatif lebih keci dan terkesan tertutup
–   memiliki hubungan emosional yang tinggi dan ketaatan yang luar biasa pada tiap anggotanya.
–   Biasanya tak banyak memiliki ”koleksi” jurus dasar(one).

Kembali saya tegaskan bahwa tidak ada kesepakatan tentang pengelompokan dua jenis pencak silat tersebut di atas, hanya saja kecenderungan pemerintah (IPSI) yang lebih mentikberatkan pada aspek pertandingan telah banyak mengebiri perkembangan aliran-aliran pencak silat yang masih hidup secara tradisional di daerah-daerah di Indonesia. Lebih memprihatinkan lagi, di ajang internasional prestasi atlet-atlet pencak silat terus merosot tajam. Hal ini tentu membuat masyarakat memandang sebelah mata terhadap pencak silat. Perhatikan saja di medaia masa, baik cetak maupun elektronik, berapa banyak kah berita dan tayangan tentang pencak silat dibandingkan sepak bola, tennis, bulu tangkis, bahkan golf dan volley pantai lebih sering diberitakan dari pada pencak silat.

Lebih jauh lagi, sebagai alat bela diri, pencak silat pamor nya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan bela diri impor seperti karate, aikido, ju jitsu, kempo, kempo, judo, dll nya. Kenapa begitu? Tentu saja karena masyarakat menilai pencak silat ‘tidak bermutu’ dan jauh dari gengsi. Memprihatinkan bukan?

Dengan mengkampanyekan silat tradisional, diharapkan masyarakat dapat terbuka matanya bahwa pencak silat jauh dari persepsi buruk yang selama ini melekat. Bahwa sebagai seni, pencak silat sangat indah untuk ditonton, sebagai alat bela diri, pencak silat sangat ampuh dan mematikan (jika mau tentu nya), sebagai suatu budaya, pencak silat wajib kita pelihara, jaga dan lestarikan.

Aliran dan Perguruan

Aliran silat merujuk pada pengertian dari mana sumber pencak silat tersebut berasal. Aliran silat bersifat original, klasik, dan merupakan sumber yang mempengaruhi. Aliran silat bisa dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Aliran silat primer adalah sumber pertama yang mempengaruhi aliran silat lain. Sebagai contoh aliran silat cikalong (maenpo cikalong) banyak mempengaruhi beberapa aliran silat di Jawa Barat. Begitu juga dengan Cimande yang sangat banyak mempengaruhi aliran silat lainnya. Aliran silat sekunder adalah aliran silat yang terbentuk sebagai hasil dari perpaduan satu atau lebih aliran silat primer, yang kemudian menjelma menjadi satu bentuk aliran silat baru.

Aliran silat juga bisa dibagi menjadi dua :

  1. Merujuk kepada daerah asal : seperti aliran silat Jawa Barat, Betawi, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, dan sebagai nya
  2. Merujuk ke jenis pencak silat sendiri, seperti aliran Cimande, Cikalong, Silek Tuo, Kumango, Harimau, Seliwa, Cingkrig, Beksi, Sendeng, Sera, Gerak Gulung, dan lain-lain.

Jadi aliran silat suatu daerah bisa terdiri dari berbagai aliran jenis silat nya.

Perguruan adalah wadah organisasi yang mengajarkan suatu jenis pencak silat dari satu atau beberapa aliran. Kita mengenal banyak perguruan silat di tanah air dari yang sangat terkenal sampai yang tidak dikenal masyarakat umum. Contoh perguruan yang sangat terkenal adalah KELUARGA SILAT NASIONAL PERISAI DIRI, PPS BETAKO MERPATI PUTIH, PGB BANGAU PUTIH, TAJIMALELA, KPS NUSANTARA, PERSAUDARAAN SETIA HATI, MUSTIKA KWITANG, TAPAK SUCI PUTRA MUHAMMADIYAH, DLL. Perguruan-perguruan silat tersebut telah sangat terkenal dengan manajemen organisasi yang bagus, bahkan mempunyai cabang-abang di luar negeri, dan telah banyak mengukir prestasi melalui atlet-atlet nya.

Dengan adanya pembagian ini diharapkan tidak terjadi lagi kerancuan dan salah pengertian antara aliran silat dengan perguruan silat.

Filosofi dalam Pencak Silat

Salah satu hal yang membuat pencak silat bernilai tinggi adalah filosofi yang terkandung di dalamnya, yang membuat pencak silat tidak hanya alat untuk berkelahi dan membela diri, tetapi jauh dari itu pencak silat dapat membuat manusia menjadi insan yang berjiwa satria, berkepribadian luhur, bermartabat dan menghargai nilai-nilai kemanusian. “Silat untuk silaturahim” adalah slogan yang bernilai filsosofis. Silat menjadikan kita manusia yang dapat menjaga nilai-nila sosial, menjalin tali silaturahim, bertanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Terlalu klise dan hiperbolis kelihatannya. Tetapi apa bila kita mengahayati dan mengamalkannya, hal itu bukan lah suatu slogan kosong semata.

“Lahir silat mencari teman, batin silat mencari Tuhan”. Ini adalah petuah yang sangat terkenal di kalangan masyarakat khusus nya masyarakat pencak silat Minang.

Di kalangan masyarakat sunda, khusus nya maenpo cianjur/cikalong sangat terkenal petuah dari maestro maenpo cikalong yaitu Gan Obing Ibrahim bahwa “seseorang belum dapat dikatakan mahir maenpo apa bila masih mengalahkan lawannya dengan menyakiti”.

Seorang pesilat yang sudah ahli tentu akan menghayati nilai-nilai tersebut. Tidak semena-mena, tidak menyakiti, bahkan cenderung rendah hati dan tidak menunjukkan keahliannya di depan umum secara arogan. Seorang pendekar yang mumpuni akan mempertanggungjawabkan setiap tindakan nya dan mengamalkan ilmu nya di jalan kebenaran. Saya pribadi berpendapat berdasarkan pengalaman, hal-hal tersebut di atas bukanlah omong kosong belaka.

Kaedah dalam pencak silat

Kaedah adalah aturan, pedoman, tata nilai dan tuntunan yang terdapat dalam setiap gerakan pencak silat. Tanpa kaedah, maka jurus-jurus dan aplikasi yang dilakukan tidak akan bermakna dan hanya berupa gerakan kosong belaka. Dalam pertarungan sesungguh nya, seorang pesilat yang memahami kaedah dalam setiap gerakannya akan dengan mudah mengatasi lawannya yang tidak memahami kaedah.

Kaedah lah yang membuat setiap gerakan silat menjadi bermakna. Jadi intisari dalam silat adalah pemahaman akan akan setiap kaedah dalam gerak nya.

Kaedah terdapat dalam setiap gerak maupun posisi/sikap.

  1. Sikap berdiri : Posisi/sikap berdiri tegak lurus mempunyai kaedah yang berbeda dengan sikap yang agak membungkuk. Dengan demikian seorang pesilat yang memahami kaedah akan dengan mudah menentukan apakah dia harus berdiri tegak atau kah sedikit membungkuk atau membungkuk penuh dalam menghadapi lawan nya.
  2. Posisi kaki : ada berbagai macam posisi kaki dalam bersiap/sikap pasang, ada yang sejajar, kaki kanan di depan, kaki kiri di depan, tegak, setengah tegak atau pun berdiri rendah. Semua sikap itu adalah baik dan benar sepanjang kita mengetahui makna nya, kaedah nya, tujuannya. Dalam terminology silat sunda/maenpo posisi ini di sebut tangtungan kembar, jurus (kaki kanan di depan), dan suliwa (kaki kiri di depan). Bagaimana penerapannya tergantung dari situasi dan kondisi serta pemahaman akan kaedah nya. Secara umum, posisi kaki sejajar dimaksud kan supaya lebih fleksibel dalam bergerak, di mana kita akan bebas untuk bergerak maju atau mundur tanpa lawan mengetahui nya. Posisi kaki kanan di depan adalah sikap jurus yang umum nya digunakan untuk melakukan serangan, sedangkan posisi suliwa atau kaki kiri di depan digunakan untuk menyerang atau menghindar. Posisi tubuh sehubungan dengan kaki ini adalah tegak lurus, setengah tegak, dan berdiri rendah. Masing-masing mempunyai kegunanaan, kelebihan dan kekurangan tergantung sejauh mana kita menguasai teknik nya, kaedah nya dan fungsi nya.
  3. Sikap tangan : Sama hal nya dengan kaki, posisi tangan pun mempunyai variasi bermacam-macam, ada yang tergantung lurus ke bawah, sejajar di depan dada, merapat di ketiak, satu tangan di depan, terbuka lebar seperti tampak mempersilakan lawan untuk masuk menyerang, dan sebagai nya. Kombinasi dari posisi kaki dan sikap tangan akan melahirkan berbagai variasi bentuk sikap pasang dan kuda-kuda. Setiap aliran silat mempunyai kaedah sendiri tentang hal ini. Ada pula kaedah sikap tangan dengan jari terkepal, terbuka, setengah terkepal, sebagian jari terbuka lurus dan sebagian tertekuk. Masing-masing mempunyai kaedah dan tujuan yang berbeda.
  4. Pola langkah : ada langkah lurus ke depan, menyamping, mundur lurus dan mundur menyamping. Ada langkah dengan melangkah biasa, ada yang setengah melompat, dan ada langkah seser (kaki tidak diangkat), ada pola langkah kombinasi.
  5. Menyerang, menghindar, dan menangkis. Penguasaan kaedah yang matang akan menghasilkan penyerangan yang tepat sasaran, hindaran yang menyelamatkan dan tangkisan yang tepat. Contoh nya, apabila posisi lawan sejajar tegak lurus dengan kuda-kuda “jurus”, maka serangan lurus dengan jurus tidak akan menghasilkan serangan yang berhasil, kecuali si lawan terlena dengan ketampanan/kecantikan kita.
  6. Masih banyak kaedah yang terdapat dalam pencak silat. Uraian satu per satu dan detil mungkin membutuhkan pembahasan dalam bab tersendiri.

Inti nya adalah menguasai pencak silat tidak hanya menguasai jurus dan teknik serta aplikasi nya tetapi yang lebih penting adalah menguasai dan mengerti kaedah nya, dan tentu saja filosofi nya.

Belajar Pencak Silat

Yang terutama dan sangat penting adalah niat. Niat yang ikhlas untuk belajar, bisa dan mengerti serta niat untuk menjaga dan melestarikannya. Selanjut nya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran. Apabila sekedar belajar secara instan, jangan diharapkan akan menguasai pencak silat secara utuh. Bertanggung jawab dan beretika, ini sangat penting. Pencak silat yang kita kuasai harus kita pertanggung jawabkan penggunaannya untuk kebaikan. Ber etika yang dimaksud di sini adalah belajar silat tidak sekedar untuk icip-icip, coba-coba dan sekedar petualangan (hal ini banyak terjadi berdasarkan pengalaman saya). Atau belajar suatu aliran sekedar untuk mendapat kan satu dua jurus pilihan dan mencampuradukan dengan aliran lain/aliran sendiri, kemudian mengklaim sebagai jurus ciptaan sendiri atau hasil cipta leluhur nya. Menggabungkan atau menciptakan jurus baru tentu saja tidak dilarang bahkan bagus untuk perkembangan pencak silat itu sendiri, yang tidak dibenarkan adalah menghilangkan asal-usul dari sumber jurus tersebut.

Image negative tentang pencak silat

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini di masyarakat sudah melekat kesan negative tentang pencak silat seperti :

  1. Silat itu kampungan
  2. Silat itu penuh dengan mistik dan klenik yang tidak masuk akal
  3. Silat itu untuk kalangan preman dan tukang pukul
  4. Belajar silat hanya membuat anak-anak kita belajar kekerasan
  5. Silat tidak ampuh untuk berkelahi hanya bagus untuk ditonton tarian/ibingannya, dll.

Pendapat saya untuk hal-hal di atas adalah, bagi para pecinta dan pelestari silat, marilah kita introspeksi dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa hal itu tidak benar. Bagi kalangan yang merasa pencak silat “tidak ada bagus-bagus nya sama sekali” dan memandang nya secara negative, sadarilah kalau bukan kita yang mencintai dan melestarikannya lantas siapa lagi? Fakta bahwa orang-orang luar (orang asing) berbondong-bondong belajar silat dan membuka perguruan pencak silat di Negara nya membuktikan bahwa pencak silat adalah sebuah “barang bagus, layak jual dan layak dikoleksi”. Selanjut nya, silakan berkenalan dan bergaul dengan para sahabat silat yang tergabung dalam komunitas sahabat silat, ikutan diskusi untuk menambah wawasan dan kecintaan terhadap pencak silat. Terakhir, sering-sering lah berkunjung ke website ini (www.rasyid-aj.com) untuk lebih mengenal pencak silat.

Akhirul kalam, komentar dan saran atas berbagai kekurangan dalam tulisan ini, sangat diterima dengan tangan hati terbuka.

Wabillahi taufik wal hidayah

One thought on “Capita Selecta Pencak Silat

    bang ochid said:
    June 28, 2010 at 10:03 am

    nice to know that my article here can be useful. thank for ur comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s