Pencak Silat dalam Perspektif Kebudayaan

Posted on


kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat .

Dalam wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan_Indonesia) disebutkan beberapa jenis kebudayaan indonesia yang terdiri dari :

1. Rumah adat

2. Tarian

3. Lagu

4. Musik

5. Alat musik

6. Gambar

7. Patung

8. Pakaian

9. Suara

10. Sastra/tulisan

11. Makanan

12. Kebudayaan Modern Khas Indonesia.

Merujuk pada definisi kebudayaan di atas, semestinya Pencak Silat juga masuk dalam kebudayaan Indonesia. Menarik sekali untuk didiskusikan mengapa Pencak Silat tidak termasuk dalam bagian kebudayaan.

Pencak silat jelas merupakan hasil budi dan akal manusia, lahir melalui proses perenungan, pembelajaran dan pematangan. Sebagai tata gerak, pencak silat dapat dipersamakan dengan tarian. Bahkan pencak silat lebih kompleks, karena dalam tata gerak nya terkandung unsur-unsur pembelaan diri yang tidak ada dalam tarian. Pencak silat sebagai hasil budaya, dalam hal-hal tertentu lebih fungsional dari tarian karena mempunyai manfaat terhadap individu dan masyrakat. Bagi Individu manfaat nya adalah untuk pembelaan diri dan kesehatan. Bagi masyarakat, manfaatnya berupa keindahan seni gerak yang dapat dinikmati, dan sabagai sarana silaturahmi.

Pencak silat adalah seni bela diri. Dalam seni terkandung dua pengertian : keindahan dan tindakan (how to act, how to do). Oleh karena itu lah dikenal istilah “seni memimpin, seni memasarkan, seni mempengaruhi orang lain, dan sebagainya”. Dengan demikian sebagai hasil dari suatu kebudayaan pencak silat adalah SENI yang mengandung unsur PEMBELAAN DIRI. Mengapa disebut seni bela diri? Ini untuk membedakan pertarungan dalam pencak silat dengan pertarungan jalanan. Di jalanan, pertarungan dua orang yang tidak mengenal pencak silat (atau segala jenis seni bela diri lainnya) hanya mengenal satu kata : MENANG. Bagaimana pun caranya, hantam kromo, serabutan, asal pukul, asal tendang. Pencak silat mengatur bagaimana cara menyerang, menghindar, bertahan dan mengalahkan dengan teknik dan kaidah yang indah, tidak asal-asalan.

Sebagai hasil karya budaya, Pencak Silat sangat kental dengan nilai dan norma yang hidup dan berlaku di masyarakat. Oleh karena itu pada dasarnya pencak silat lebih menekankan pada unsur-unsur sosial berupa silaturahmi; keindahan dalam seni gerak; kesehatan dalam gerak badan, dan pembelaan diri pada urutan terakhir. Para guru dan sesepuh silat selalu mengajarkan untuk tidak mendahului menyerang, menghindari pertarungan, dan sedapat mungkin tidak mencelakai musuh.

Amanat Rd. Hj Ibrahim, pencipta silat Cikalong dapat dijadikan contoh :

Jangan menyombongkan guru, lebih-lebih jangan menyombongkan diri sendiri mahir maenpo, Menunjukkannya di mana-mana, sebab dapat menimbulkan fitnah, menghina dan menjelek jelekan penca yang lain, Takabur, Ujub dan ria (sombong) dengan harapan disebut mahir maenpo atau ingin di takuti orang lain

Amanat dari Raden Obing Ibrahim

Diingatkan kepada semua yang sedang belajar atau yang sudah belajar amengan (penca), janganlah sampai melanggar nasihat gurunya, seperti mencoba ilmu orang lain atau memamerkan gerakan di jalan atau di tempat umum, sebab hal demikian kurang pantas. Belajar amengan itu tidak ada akhirnya, selamanya kita belajar terus, berakhir hanya pada saat meninggal. Pada waktu mencapai ilmu yang tinggi perilaku menjadi hati-hati dan waspada, apa yang terjadi dihadapi. sangat sulit untuk mengetahui siapa yang sudah tinggi ilmunya dan siapa yang masih rendah, sebab apa yang tampak , misalnya kebagusan ibing (tari penca) tidak dapat di jadikan patokan kemahiran penca. Pada saat bersambung baru dapat di tentukan apakah seseorang itu lebih tinggi, sama, atau lebih rendah Semua ameng (baik yang ada di tanah sunda maupun yang berasal dari luar) tidak ada yang lebih bagus atau lebih jelek, sungguh semuanya biasa saja, menjadi jelek untuk yang masih bodoh , sedangkan bagi yang sudah mahir tetap bagus, jadi tidak tergantung ameng yang mana, melainkan pada kemahiran atau kebodohannya.

Dikalangan masyarakat Betawi, orang yang belajar maen pukulan (istilah pencak silat di Betawi) selalu diajarkan untuk tidak : belagu, pental-pentil dan bahwa belajar maen pukulan itu buat buka lari , artinya untuk menghindari perkelahian. Begitu pula dengan pencak silat dari daerah lain, seperti di masyarakat minang yang mengajarkan bahwa serangan pertama dari musuh harus dianggap sebagai ibu yang sedang marah, artinya kita tidak boleh membalasnya. Baru pada serangan keempat kita boleh membalas, dengan niat mengalahkan kezholiman.

Pencak Silat adalah budaya bangsa, harus kita tempatkan pada posisi yang terhormat karena merupakan karya adi luhung nenek moyang, hasil karsa, rasa, dan cipta. Sebagai suatu hasil budaya, pencak silat mengandung unsur-usnur keindahan, kesehatan, dan nilai serta norma dalam pergaulan masyarakat. (ochid)

tulisan ini pernah di posting di Silatindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s